KUANTAN SINGINGI – Aturan Hia atau yang akrab disapa ATHIA, Bendahara DPC GRANAT Kuansing sekaligus jurnalis, membantah tegas pemberitaan soal dugaan pembacokan yang menimpa dirinya dan keluarga. Ia menegaskan tak ada parang di lokasi kejadian, dan mempertanyakan kelalaian media yang memberitakan tanpa konfirmasi semua pihak.
Peristiwa berawal pada Senin (24/8/2026) malam, saat ATHIA mengumpulkan tim di kediamannya untuk membahas laporan dugaan beroperasinya tempat hiburan malam tak berizin. Situasi memanas saat muncul permintaan uang beli minuman, lalu meletus perselisihan antar-saudara kandung – Heppynes Hia dan Sekagesima Hia. Terjadi lempar kursi dan HP, ATHIA serta istri, Aliria Hia, ikut melerai hingga terluka.
“Yang terjadi adalah keributan keluarga, bukan pembacokan. Saya tidak melihat adanya parang di lokasi,” tegas ATHIA dalam klarifikasi yang videonya beredar luas di media sosial. Ia mencatat Heppynes sempat berucap “tahan bacok”, namun itu bukan berarti terjadi pembacokan dengan senjata tajam.
ATHIA sangat menyayangkan pemberitaan yang langsung menulis “pembacokan” tanpa verifikasi, termasuk oleh media TURIANISURA.COM. Nama dirinya, istri Aliria Hia, dan adiknya Sekagesima Hia disebut, namun tak satu pun dikonfirmasi.
“Kebebasan pers bukan berarti bebas menyajikan informasi sepihak. Berita harus berpijak pada fakta, bukan satu versi cerita,” kritiknya. Ia meminta media memberikan ruang klarifikasi bagi setiap pihak yang disebut, bukan mengambil kesimpulan jadi fakta sebelum proses hukum tuntas.
Ia juga meluruskan sejumlah poin: Sefelinus Halawa – yang dilaporkan jadi korban – sebenarnya melerai keributan; keberangkatan ke Polres Kuansing atas ajakan Heppynes, bukan karena dibawa pihak lain; HP yang diamankan istri justru untuk mencegah dipakai dalam perkelahian, lalu dikembalikan.
Keluarga juga menyampaikan kekhawatiran terhadap perilaku Heppynes Hia yang dinilai berulang kali memicu persoalan, padahal telah dibantu materi lebih dari Rp 20 juta dalam beberapa bulan terakhir.
ATHIA mendesak Polres Kuansing memeriksa seluruh pihak secara objektif, memproses laporan Sekagesima Hia, serta meminta media bertanggung jawab – konfirmasi semua pihak, periksa fakta, dan jangan menjadikan konflik keluarga sebagai komoditas berita.
“Biarkan penyidik bekerja. Biarkan bukti berbicara. Jangan media yang mengambil alih fungsi pembuktian,” tandasnya.(Rls)













